Minggu, 23 Maret 2014

A Quest for Identity in ASEAN Literary Festival 2014

 

Sebagai seorang literature enthusiast versi The Jakarta Post (baca artikelnya disini), rasanya tidak sah kalau tidak mampir sebentar ke ASEAN Literary Festival yang tahun ini digelar di Taman Ismail Marzuki. Saya tidak punya referensi sebelumnya mengenai rundown acara dan pengisi acara sampai saya membaca satu twit mengenai diskusi tentang buku anak pada hari kedua. Kebetulan, diskusi sore kemarin menghadirkan tiga penulis buku anak, Arswendo Atmowiloto, Clara Ng @Clara_Ng, dan Icha Rahmanti @cintapuccino. 

Karya Mas Wendo sudah lebih dulu dikenal sebagai tayangan keluarga, yaitu “Keluarga Cemara”. Baru-baru ini, beliau juga menerbitkan bukunya mengenai serial detektif anak. Selama ini, saya mengenal Clara Ng sebagai penulis cerita novel dewasa. Duetnya dengan Felice Cahyadi dalam “Blackjack” adalah karya terakhirnya yang bergenre dewasa sebelum kembali berduet menulis buku bergenre anak-anak dengan Icha Rahmanti dalam “Pintu Harmonika” dan “Princess, Bajak Laut, dan Alien”. Icha Rahmanti sendiri saya ingat sebagai penulis bergenre ‘sastra wangi’ (chick literature). Beberapa novelnya sempat diangkat ke layar lebar dan mendapat sambutan yang baik dari khalayak.

Sangat menarik untuk mengikuti diskusi berjudul “A Quest for Identity” ini. Saya rasa bukan tanpa sebab isu tentang bacaan anak menjadi satu topik bahasan dalam hajatan festival sastra se-ASEAN ini. Terutama untuk Indonesia sendiri, kesadaran untuk kembali menghadirkan bacaan anak agar anak-anak kembali pada fitrahnya (bermain dan bersenang-senang) mulai terbentuk. Kerinduan akan bacaan anak yang bisa mendidik sekaligus menghibur plus imajinatif sudah menjadi concern beberapa kalangan.


Perbincangan dimulai tentang mengapa ketiga narasumber itu bisa terlibat dalam penulisan buku anak. Awal perjalanan kepenulisan mereka yang berbeda membuat diskusi semakin menghangat. Anak-anak bisa menemukan siapa diri dan identitas mereka ketika membaca buku. Sayangnya, campur tangan industri membuat mereka kehilangannya. Saya senang sekali melihat Clara Ng berapi-api dalam menyampaikan pendapatnya. Semua yang dikatakannya tidak berbeda dengan apa yang ditulisnya via twitter. Banyak pandangan dan harapan yang narasumber sampaikan mengenai buku anak yang senantiasa mengedepankan lokalitas budaya, kedekatan konteks, bahkan adaptasi karya asing.

Pada akhirnya, bacaan anak harus mampu mendekatkan anak-anak pada dunianya dan budaya lokal disekitarnya. Ketika identitas lokal sudah terbentuk maka tidaklah salah bila kemudian mereka diperkenalkan pada khazanah sastra global. Peran orang tua pun sangat dituntut dalam hal ini. Pengalaman Clara Ng dan Icha Rahmanti sebagai seorang ibu telah membuktikannya. Diskusi dan wacana mengenai konten buku anak yang berkualitas haruslah pula menjadi hal lain yang dipertimbangkan untuk perkembangan bacaan anak di Indonesia.

Terlepas dari topik bahasan, saya sendiri ikut bertanya kepada Clara Ng dan Icha Rahmanti mengenai hambatan yang mereka alami dalam menulis “Pintu Harmonika” dan “Princess, Bajak Laut, dan Alien”. Saya tidak ingin mengajukan pertanyaan mengenai teknik menulis, atau bagaimana mengatasi writer’s block, selain karena sudah ditanyakan, saya sendiri ingin tahu apa-apa saja yang mereka alami dalam pembuatan sebuah karya, apalagi yang didedikasikan untuk anak-anak.

Beruntung, karena pertanyaan itu , saya bisa naik panggung untuk mengambil hadiah yang disediakan untuk pertanyaan terbaik versi mereka berdua. Saya cukup kaget karena saya adalah penanya terakhir dimana energi mereka sudah terkuras untuk beberapa pertanyaan sebelumnya. Well, it’s just my luck for having their books. 


Kalaupun boleh berpendapat, saya tentu mengharapkan akan lebih banyak lagi karya bacaan anak yang mampu mendekatkan mereka kepada dunianya. Dunia penuh imajinasi yang kini hanya bisa dipenuhi oleh gadget-gadget populer. Untuk itu, setidaknya diskusi hari ini sudah cukup membuka wacana bahwa anak-anak pun tidak bisa dilewatkan begitu saja sebagai bagian dari sastra.


Paninggilan, 23 Maret 2014.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...