Rabu, 09 April 2014

Today, I Vote!

Pemilihan umum telah memanggil kita
Seluruh rakyat menyambut gembira


Seperti mars Pemilu masa orde baru, akhirnya hari Rabu, 9 April 2014 ini benar-benar tiba. Hari penentuan bagi kelanjutan fungsi legislatif sebagai bagian dari tias politica dianut Republik ini. Segala macam dan rupa pencitraan demi meraih dukungan dan menggaet suara pemilih telah tiba pada muaranya.  Suara anda menentukan masa depan bangsa. Kira-kira begitulah simpulan halus himbauan negara agar seluruh warga negara mau ikut berpartisipasi.


Sebagai warga negara yang bertanggungjawab, sudah menjadi kewajiban saya untuk memberikan suara pada hajatan rutin lima tahunan ini. Saya masih ingat pada hari Pemilu pertama saya tahun 2004 lalu ketika kami, para pemuda komplek, mencoblos partai yang kami yakini sebagai ‘Messiah’, juru selamat dari zaman kalabendhu, zaman penuh kekacauan dalam cerita Panji Koming. Saya cukup optimis dengan apa yang saya pilih walau kemudian saya dibuat kecewa juga.

Keadaan yang kurang lebih sama masih dialami hingga hari ini. Kekecewaan atas segala ketidakberesan di negeri ini menjadi hesitansi sendiri bagi pemilih, terutama dari kalangan menengah baru (growing middle class). Ancaman golput masih terus membayangi dan akan selalu ada dalam setiap Pemilu. Keengganan juga muncul kala pemilihan langsung caleg kali ini karena pemilih ‘dipaksa’ mengenali calon yang akan mewakilinya. Tidak jarang saya mendengar celoteh kawan-kawan yang memilih untuk tidak memilih karena tidak ingin bertanggungjawab atas tindakan caleg-caleg yang nantinya bobrok-bobrok juga saat duduk di kursi legislatif.

Saya pun sepenuhnya sadar, bahwa tidak ada jaminan bahwa partai atau caleg yang kita pilih hari ini akan membawa perubahan berarti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sama dengan tidak adanya jaminan atas sholat, puasa, dan ibadah lainnya yang saya lakukan diterima Allah SWT, jaminan apakah saya masih bernafas pada detik yang ke-75.241 hari ini. Tidak ada jaminan juga  apakah pilihan saya nanti membawa manfaat atau mudharat.

Bukankah dalam agama pun kita telah dididik untuk selalu berpikiran positif dan berprasangka baik. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita lihat, belum tentu seperti yang ada di pikiran kita. Tugas saya adalah memilih calon legislatif yang memang sudah siap lahir-batin untuk duduk mewakili konstituennya. Apabila nanti mereka bertindak diluar apa yang diamanahkan, itu sudah bukan urusan saya lagi. Biar itu jadi urusan mereka dengan Tuhannya saja.

Yang jelas, saya punya hak untuk ikut bersuara bila para wakil rakyat itu mulai bertingkah karena saya ikut memilih. Lebih baik mana, kecewa karena ikut memilih, atau sama-sama kecewa padahal tidak ikut memilih. Saya lebih memilih opsi pertama karena saya bertanggungjawab atas pilihan saya.


Pharmindo, 9 April 2014.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...