Minggu, 19 Desember 2010

Penolakan

Aku tunggu engkau, aku tunggu engkau... Rupanya engkau forget to me... *

Selama kurang lebih tiga hari mengikuti Latihan Disiplin dan Kepemimpinan di Bhumi Marinir Cilandak ada beberapa hal penting yang saya pelajari kembali. Entah itu menemukan kembali nasionalisme yang sudah mulai luntur, makna teamwork dalam aplikasi yang sesungguhnya di medan laga, hingga kontrol diri. Barangkali, kalau semua itu saya ceritakan satu per satu tentu akan menghilangkan esensi dari judul tulisan ini. Biarlah jari-jari saya menulis cerita-cerita itu nanti di lain episode.

Pada hari kedua latihan, Pelatih berpangkat Letnan Satu yang juga Komandan Kompi kami berpesan sambil mengevaluasi performance kami dalam hal teamwork. Beliau bilang "ingat, laki-laki itu egois...".

Dalam konteks pembinaan mental teamwork hal itu bisa menjadi dasar mengapa kita disana melakukan latihan ini. Permainannya pun terhitung sedehana tetapi bila direnungkan kembali akan memiliki makna yang sangat dalam, juga bila dikaitkan dengan pernyataan Pelatih itu tadi.

Hari ini, tepat sebelum kami membubarkan diri dari latihan mountaineering, pelatih itu berpesan lagi "..laki-laki itu cuma punya satu kelemahan... Takut Ditolak...".

Barangkali memang egois dan sikap takut ditolak ini saling berhubungan erat. Egois, sepanjang pengalaman saya memang telah menjadi sesuatu yang disadari atau tidak bisa membawa manfaat atau malah sebaliknya. Sifat egois ini juga bahkan didominasi oleh kaum laki-laki.

Saya tertawa simpul dalam hati sembari mengangguk tanda membenarkan perkataan pelatih. Saya melakukan itu karena saya pun telah mengalaminya. Saya tidak ingin ditolak untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Apalagi dalam urusan asmara, moro seneng, pekerjaan, dan lain sebagainya

Saking egoisnya, sampai kadang saya tidak menerima satu penolakan atas apapun yang saya inginkan. Penolakan sering berarti juga kegagalan. Setiap penolakan berarti kegagalan. Dengan begitu, bila sudah menemui kegagalan pilihannya hanya tinggal maju terus pantang mundur karena badai pasti berlanjut atau berjalan mundur perlahan sambil mengambil sikap bunuh diri. Kalau perlu, pinjam sekalian kredo-kredo di sekeliling Ksatriaan, contohnya: Pantang pulang sebelum menang, agar kegagalan itu tidak jadi batu sandungan.

Saya seakan disadarkan kembali bahwa sebesar apapun penolakan itu pasti membawa hikmah. Saya percaya Tuhan telah memberikan hal itu pada saya karena Tuhan pun tahu saya mampu mengatasi hal itu. Saya kembali membuka mata, hati dan pikiran kepada proses-proses kehidupan agar setiap penolakan-penolakan itu mampu saya atasi. Minimal, saya bisa memperkecil dampaknya karena imbasnya sangat buruk bagi kesehatan mental. Saya masih harus terus belajar. Belajar mengikuti dan menjalani proses kehidupan demi hasil yang dicita-citakan.


Cilandak-Paninggilan, 18 Desember 2010. 21.01

* prelude yel yel Pasukan Siswa Latihan Dispim Kemhub, 14-18 Desember 2010 di Ksatriaan Hartono, Brigif II Marinir, Bhumi Marinir Cilandak. Dinyanyikan pada setiap kesempatan latihan lapangan.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...