Senin, 08 Januari 2024

Membunuh Perasaan

Kau mintakan aku bercerita padamu tentang bagaimana caranya agar aku tidak selalu rindu pada rumahku. Baik, begini ceritanya.

Waktu itu setelah kelulusan. Aku masih menikmati saat-saat itu. Suatu waktu dimana tiap detiknya masih sama seperti saat cerita ini aku buat. Sama sepertimu. Aku hanya ingin menikmati hari-hari setelah kelulusan dengan biasa saja. Aku tahu aku harus mencari pekerjaan. Aku tahu itu dan aku rasa aku akan memulainya nanti.

Aku memulai beberapa pekerjaan kecil yang memang sering aku lakukan. Kembali menghubungi kawan-kawan lama dan ya begitu-begitu saja. Pernah juga aku kerja tak dibayar. Aku pernah mengalaminya. Dan percayalah, kau pasti tidak akan mau merasakannya. Jangan. Jangan pernah.

Begitulah, sampai suatu saat aku merasa harus segera meninggalkan kotaku itu. Aku selalu merasa harus pergi dari kota yang telah membesarkanku. Padahal, situasinya tidak terlalu parah. Aku masih punya penawaran untuk sebuah pekerjaan lagi. Tapi, karena begitu kuatnya dorongan itu, aku memilih berhenti saja supaya aku bisa lebih leluasa. Klasik. Padahal itu cuma jadi pembenaran saja kalau aku masih merasa harus pergi menuju kota impian.

Perasaan itu terus menghimpitku. Maka yang bisa kulakukan hanyalah menikmati hari-hari secara berbeda. Aku harus menjalani hari-hariku dengan apa yang kuinginkan. Aku tidak pernah akan tahu kapan hari terakhirku di kota itu. Aku hanya bisa melakukan apa yang biasa kulakukan. Mendengarkan radio, selonjoran sampai tengah malam, atau malah merokok di keheningan malam juga aku lakukan. Aku harus mempersiapkan segalanya. Semuanya. Agar kelak bila memang aku meninggalkan kota ini aku benar-benar tidak harus berpikir apa-apa lagi dan yang pasti tidak akan ada penyesalan.

Suatu hari, aku harus pergi ke kota tujuanku. Kotaku yang sekarang ini. Aku harus mengikuti suatu ujian. Aku berangkat dengan semangat. Semangat, siapa tahu aku ditakdirkan untuk menaklukkan kota itu.

Esok harinya aku telah kembali bersama hujan di kota asalku. Aku kembali lagi dengan harapan akan kembali. Perasaan itu masih ada. Aku masih merasakan getarannya yang sangat kuat. Aku harus pergi. Aku harus pergi. Sampai saatnya benar-benar tiba. Aku mendapatkan pekerjaan. Entah, tanpa pertanda tanpa firasat, perpisahan itu terjadi pula. Kutinggalkan kedua orang tuaku dan juga adikku yang beranjak dewasa. Semua itu terjadi begitu saja. Begitu saja.

***

Aku jalani hidupku yang sekarang ini. Aku masih menyimpan kerinduan untuk sekedar pulang menengok rumah sebentar. Apakah akan masih kutemui senyuman rindu Ibunda dan hangatnya tatapan Bapak, belum lagi tawa riang si Adik melihat Kakaknya pulang? Akankah semua itu menyambut pulangnya si anak ini?

Perlu kau tahu, aku menulis cerita ini sambil berurai air mata ditemani Barry Gibbs yang menyanyikan lagu I Started a Joke.

Aku masih menyimpan kerinduan itu. Dengan penghasilanku sekarang sebenarnya aku bisa pulang setiap minggu. Persis seperti cerita Bapak ketika bekerja dikota ini. Namun, entahlah aku hanya bisa pulang seminggu sekali. Rasanya lelah sekali dan setiap weekend hanya kuhabiskan untuk beristirahat saja.

Bilamana rasa rindu menyerang, ada beberapa hal yang aku lakukan. Aku sering pergi ke Stasiun Jatinegara dan berlama-lama disana setiap hari Jum'at. Aku merasakan sebuah perasaan yang dahsyat kala melihat orang-orang berlarian menghampiri Argo Gede. Mereka-mereka itulah yang masih punya kehidupan di Bandung, sama sepertiku. AKu melihat kerinduan dari mata mereka. Maka yang bisa kulakukan hanyalah melihat itu semua terjadi. Dengan itupun aku merasa lega. Aku titipkan kerinduan ini pada setiap rangkaian gerbong Argo Gede.

Kalaupun tak sempat, aku hanya berdiri saja sambil berpura-pura  menunggu bis di depan pool travel itu. Aku lihat mobil yang setiap jamnya berangkat. Aku lihat lagi wajah-wajah penuh rindu. Maka aku pun tenang setelahnya. Sama seperti tadi.

Aku masih akan berada disini untuk waktu yang tak tentu. Aku masih akan disini dulu. Ada yang masih harus kucari. Ada yang harus kuselesaikan. Disini.



8 Januari 2009

* Tulisan lama di Facebook, terbit ulang di blog ini dengan alasan dokumentasi.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...