Senin, 27 Februari 2017

Petikan (2)

.....

Lima
 

Orang dungu dan orang pandai
Mengarang tubuhnya sendiri-sendiri
Diramu berdasar sangkaan dan keinginan
Yang tak diuji dan tak dijernihkan
 

Ramuan tuhan-tuhanan dijadikan gincu
Dioleskan ke bibir
Dijajakan ke sana-kemari
Agar laris dagangan duniawi
 

Tuhan dijadikan suku cadang
Untuk membuat peluru dan senapan
Dibubuhkan namanya di surat-surat keputusan
Dikurung dalam kandang kambing-kambing hitam

 

Enam
 

Orang lain berteku-tekun sembahyang
Sambil merendahkan orang lain dan menajiskan
Tuhan dimonopoli
Diakui sebagai miliknya sendiri

Orang yang sembahyangnya gagal sembahyang
Tak menemu kesejatian
Orang yang sembahyangnya berhala
Syari'at-lah tuhannya

 

Tujuh
 

Yang bukan tuhan dituhankan
Yang tuhan tak dijadikan sesembahan
Orang mabuk di putaran gelombang
Terseret dari salah paham ke salah paham

Kekuasaan dan kemegahan
Uang dan segala bentuk kekerdilan
Berfungsi tuhan
Karena dinomorsatukan

 

Delapan
 

Tuhan disederhanakan
Menjadi kayu pagar berbaris
Terbuntu jalanan ke cakrawala
Langit ditutupi awan jelaga

Jiwa lapar umat
Dicekoki penafsiran dusta
Hati mereka yang dahaga
Dijawab dengan paham syari'at yang buta

Sampai tiba suatu hari
Engaku ditanya oleh dirimu sendiri
Siapakah Tuhan hidupmu, ya shahibi?
Kau jawab: Umara dan Ulama, tak ragu lagi

 

Sembilan
 

Tuhan sudah sangat populer
Sudah dijadikan komoditas yang amat sekuler
Diiklankan dengan indahnya
Disebut dan dimanfaatkan di mana-mana

Allah yang sebenarnya
Mahasuci Dia
Dari ludah segala jenis Fir'aun
Yang merasuki tulang sumsum




Petikan dari puisi "Tuhan Sudah Sangat Populer", dalam "Seribu Masjid Satu Jumlahnya", halaman 107-109, Emha Ainun Nadjib, Mizan: 2016

Cipayung, 16 Februari 2017

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...