Minggu, 30 April 2017

Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi

Bagaimana caranya menertibkan imajinasi?
 
Sumber gambar: www.goodreads.com
Buku ini mau tidak mau harus dianggap sebagai satu dari sekian masterpiece Seno Gumira Ajidarma. Bukan karena muatan isinya ataupun permainan antara fiksi dan fakta seperti di Trilogi Insiden. "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" adalah sebuah kumpulan cerita pendek ringan nan menghibur. Menurut catatan pembuka penulisnya, ia mendapatkan inspirasi dari judul sebuah komposisi musik berjudul 'Jangan Bertepuk dalam Toilet' karya Franki Raden dekade 80-an. 

"Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" diterbitkan kembali sebagai Edisi Kedua, artinya terdapat perubahan dan tambahan, yaitu sebuah prosa berjudul sama yang berasal dari skenario film televisi berjudul sama pula. Dalam buku ini, pembaca disuguhi dua cerita "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi". Pertama, prosa yang selesai tahun 2005. Kedua, cerita asli dari tahun 1990 pada penerbitan pertamanya. 

Ceritanya masih sama. Tentang Sophie yang senang bernyanyi di kamar mandi dan membuat geger sebuah perkampungan di Jakarta. Tentu saja tidak ada yang salah dengan Sophie ketika ia memutuskan untuk indekost di kampung itu. Namun, justru imajinasi pada Bapak-bapak penghuni kampung ditambah kekhawatiran tidak beralasan dari para istri mereka membuat cerita ini semakin asyik diikuti. Konteks kehidupan sehari-hari di gang yang kumuh dengan segenap problematika khas kaum pinggiran Jakarta jadi bumbu yang menarik sebagai pelengkap cerita.

Lebih jauh, buku ini juga mengajarkan pembaca tentang keabsahan sebuah kebenaran. Suatu hal bisa dianggap sebagai kebenaran bila diakui oleh banyak orang. Artinya, sesuatu hal yang belum tentu benar bisa menjadi sebuah kebenaran tak terbantahkan hanya bila sudah jadi kehendak umum, bukan melalui hipotesis yang teruji.  Kebenaran para istri yang merasa suaminya semakin dingin setelah kedatangan Sophie yang sering menyanyi  di kamar mandi itu kemudian menjadi sebuah pembenaran untuk 'pengusiran' Sophie. 

Realitas seperti inilah yang justru akhir-akhir ini sering kita alami. Betapa nasib kita seringkali ditentukan oleh orang banyak tanpa alasan yang masuk akal. Kalau menyanyi di kamar mandi saja yang notabene ruang privat kita sudah dilarang lalu bagaimana dengan hak-hak kita yang lain? Perlukah juga dibatasi oleh sebuah kehendak umum?

Cerpen lain yang dimuat dalam buku ini masih tergolong dalam cerita yang ringan dan kadang absurd. Tentang seorang kakek yang duduk di tepi sungai bersama cucunya, tentang Sukab yang dipipinya ada jejak bibir yang merah basah, cerita satir soal urusan hari seperti dimuat dalam 'Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh'. Absurditas Seno nampak dalam cerpen 'Kriiiiiiiinngngngng!', 'Lambada', Guru Sufi Lewat', dan 'Segi Tiga Emas' yang lebih terlihat sebagai cerita pewayangan. Cerpen yang justru agak realis adalah 'Duduk di Depan Jendela', 'Midnight Express', dan ' Seorang Wanita di Sebuah Loteng'.

Judul        : Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Galang Press
Tahun        : 2006
Tebal        : 220 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Cerpen

 
Cipayung, 25 April 2017.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...