Selasa, 14 Oktober 2008

Catatan Seorang Pengangguran (2)

Tuan-tuan dan Puan-puan,
Hari ini menurut kabar yang sudah beredar ada beberapa departemen yang untuk kesekian kalinya membuka lowongan untuk menjadi PNS/CPNS. Sebuah kesempatan lagi bagi kami untuk mencoba peruntungan.

Memang beginilah keadaan dari tahun ke tahun. Beribu pintu lowongan dibuka namun sebandingkah dengan jumlah kami yang semakin bertambah dari hari ke hari? Berpa orang dari kami yang akan masuk pintu itu? Suatu jumlah yang tidak akan masuk akal bila melihat perbandingannya. Setiap tahunnya pula sebagian dari kami memang menunggu kesempatan yang diberikan pemerintah untuk menjadi abdi negara. Kami tentu bersaing dengan mereka yang desersi dari pekerjaannya yang sekarang sehingga angka perbandingannya tentu akan naik pula. Maka, anda-anda jangan heran bila melihat kelakuan kami ini yang sengaja mendaftar untuk semua posisi yang tersedia walau kadang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan.

Kami memang begini karena keadaan yang menginginkannya. Keadaannya sudah seperti ini sehingga memaksa kami untuk berbuat yang demikian. Sungguh, keadaan telah memaksa kami. Kami memang harus melakukan semua ini sebagai usaha untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Masalah penempatan di unit kerja dan kualifikasi pendidikan biarlah nanti atasan kami yang mengurusnya dengan memberikan penyesuaian. Kami membeli harapan dan mimpi untuk jadi abdi negara yang seluruh sisa hidupnya akan dibiayai oleh negara bahkan untuk sekedar bernafas sekalipun.

Tuan-tuan dan Puan-puan tentunya akan tertawa bila melihat kami hari ini yang sedang mengantri di bawah panas matahari ibukota yang membara. Kami mengantri sepanjang hari ini hanya untuk menyerahkan persyaratan yang dibutuhkan sebagai pelengkap dokumen administrasi. Kami mengantri untuk sekedar meyakinkan panitia penerimaan bahwa kami ini pantas dan layak untuk dipanggil dan diterima untuk mengikuti proses selanjutnya. Kami mengantri dengan harapan Bapak Menteri benar-benar membaca surat lamaran kami yang ditujukan kepadanya.

Tuan-tuan dan Puan-puan yang terhormat,
Tentu dulu anda tidak sempat mengalami hal yang demikian. Saya yakin sebagian dari anda juga ada yang pernah mengalaminya namun dengan kondisi yang jauh berbeda dibandingkan dengan saat ini. Atau malah anda-anda ini benar-benar tidak sempat sama sekali untuk merasakan yang demikian ini. Mungkin, anda tidak seperti kami karena anda punya cara yang lebih jitu daripada sekedar mengantri untuk daftar. Anda-anda ini punya jurus yang lebih cepat untuk masuk dan diterima sebagai abdi negara. Saya tidak perlu sebutkan cara-cara atau jurus-jurus itu. Anda sendiri yang lebih tahu. Tentu saya tidak akan berprasangka yang macam-macam karena masih dalam suasana bulan Syawal. Namun, kalau ada semacam pretensi ke arah yang negatif apa boleh buat karena memang realita menunjukkan yang demikian itu.

Dulu, sebelum anda-anda menduduki kursi yang empuk baik di perjalanan menuju kantor hingga akhirnya benar-benar kembali berada di ruang kantor apakah anda pernah berpikir bahwa anda-anda juga dulunya sama seperti kami-kami ini? Sebelum karir anda-anda menanjak sedahsyat sekarang pernahkah terlintas dalam benak bahwa memang banyak cara yang bisa dilakukan untuk diterima sebagai pegawai dan berkarir dengan sangat cepat walau kadang mungkin saja untuk menghalalkan segala maca cara termasuk menciumi tangan atasan setiap berjabat tangan?

Pernahkah anda-anda sekalian berpikir tentang nasib kami? Pernahkah anda-anda sekalian memikirkan sebuah solusi agar kami ini juga punya kehidupan sendiri dan tentunya nasib yang lebih baik? Pernahkah juga anda-anda sekalian berpikir untuk merasakan bagaimana bila menjadi seperti kami? Apakah anda-anda pernah punya pretensi untuk sekian ratus halaman surat lamaran yang segera jadi omong kosong belaka karena tidak pernah dibaca oleh perusahaan yang dituju dan segera masuk ke paper shredder?

Semuanya bisa terjadi di dunia yang serba tidak pasti ini. Semuanya masih mungkin untuk terjadi bahkan tanpa pesan pembukaan semata. Seperti anda yang tiba-tiba mendapatkan surat rekomendasi untuk naik jabatan yang berarti semuanya akan ikut naik, mulai dari tunjangan hingga biaya-biaya dinas lainya.

Tuan-tuan dan Puan-puan,
Alangkah hidup ini begitu menyenangkan bila dijalani bukan dengan kepalsuan. Kepalsuan ada dimana-mana. Ia ada dan mengintai di sekitar kita. Kita menjadi palsu tanpa harus menjdi jahat. Kita menjadi palsu agar bisa diterima sebagai pribadi yang utuh-padahal tetap saja palsu.

Kami juga sangat mungkin untuk berada dalam jalur kepalsuan. Kami bia memalsukan segalanya seperti anda yang membuat travel cheque palsu. Kami juga bisa menjadi palsu hingga luntur hakikat diri kami yang sesungguhnya. Kami bisa menjadi palsu hinggatidak lagi menjadi diri kami yang sebenarnya dan seutuhnya. Bukankah kepalsuan-kepalsuan itu memang dibutuhkan di dunia kerja nanti?

Tuan-tuan dan Puan-puan,tentu anda lebih tahu dan piawai untuk hal ini. Anda-anda ini tentu sudah seiring berurusan dengan hal ini. Seperti ketika saat anda menemui bawahan yang patuh benar pada perintah anda dan pada akhirnya anda tidak akan pernah menyadari bahwa si bawahan itu adalah si penjilat paling hebat. Bukankah itu sudah menjadi suatu bagian dari pekerjaan anda-anda bukan?

Kepada anda-anda yang membaca tulisan ini lewat internet di PC Desktop, laptop, PDA atau HP sekalipun, anda-anda yang membaca tulisan ini sambil ditemani segelas cappucino hangat. Kami tidak akan menuntut sesuatu pada anda-anda semua. Kami tidak minta untuk dikasihani agar diberikan pekerjaan atau mungkin hanya selembar nota/surat rekomendasi. Tidak. Kami tidak butuh itu.

Kami bukanlah pengangguran seperti di Amerika sana yang masih diberi kepercayaan untuk mengajukan kredit ke Bank yang pada akhirnya menusuk pemerintahan mereka sendiri yang terlilit krisis global. Kami juga bukan pengangguran seperti di Brunei sana yang tetap dibayar oleh negara dengan jumlah yang cukup.

Kami adalah bagian dari takdir. Dimana ada kaum pekerja, disana ada juga kaum pengangguran. Kami adalah bagian dari nasib yang malah justru harus menentukan nasib kami sendiri. Kami akan selalu ada di dunia ini untuk melengkapi dunia.

Kami adalah pengangguran yang senasib sepenanggungan dengan kaum pengangguran lainnya yang ada di bangsa di anak benua manapun. Kami belum memiliki pekerjaan walau kualifikasi kami kadang mencukupi. Kami adalah pengangguran yang tetap berusaha untuk keluar dari sirkuit kemelut*) yang sangat tidak menyenangkan ini. Apapun yang terjadi, kami ingin menjadi diri kami sendiri. Kami tidak ingin kehilangan harga diri hanya karena kami adalah pengangguran.


Pharmindo, 14 Oktober 2008, 08.35

*) Sirkuit Kemelut, sebuah judul novel karya Ashadi Siregar

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...