Rabu, 22 Februari 2012

Satu Malam, Tiga Cerita

#1: Rumah

i'm just too far, from where you are, i wanna go home... (Michael Buble - Home)

Katanya, home is where your heart is. Harusnya memang begitu. Sebuah tempat untuk menentramkan hati dan bisa sembunyi sesaat dari penat beban dunia. Beberapa waktu lalu, saya sempat dilanda kejenuhan. Kejenuhan yang justru saya rasakan di rumah sendiri. Entah mengapa. Saya tidak tahu pasti sebabnya.

Sepulang dari Garut kemarin, setelah habis disiksa kenangan sepanjang jalur Garut-Bandung, baru saya rasa benar fungsi utama rumah sebagai tempat kembali, beristirahat sejenak dan menghela nafas panjang. Awalnya, kejenuhan itu melanda lagi. Namun, setelah membuka pintu kamar semua itu lenyap sudah.

Tumpukan buku-buku yang belum selesai dan masih akan terus dibaca seakan jadi penawar rindu. Lunch With Mussolini yang baru selesai 3 halaman, Slilit Sang Kiai dari Emha Ainun Nadjib dan Mangan Ora Mangan Kumpul dari Umar Kayam yang belum tamat setengah buku, tesis Andy Fuller berjudul Sastra dan Politik: Membaca Karya-karya Seno Gumira Ajidarma yang masih setengah terbuka. Belum lagi, 25 Cerpen Kahitna dan Kumpulan Sajak Cinta: Cinta, Kenangan, dan Hal-hal yang Tak Selesai, masih menanti untuk dibuatkan catatan.

Suatu perasaan yang melegakan untuk kembali ke rumah adalah ketika menjumpai dua model pesawat kebanggaan bangsa Nusantara, CN235 dan N250 skala 1:25, buatan Bapak ketika masih jadi bagian dari karyawan IPTN. Pun sama halnya dengan ketika menyalakan radio yang segera mendendangkan lagu-lagu kesayangan. Thanks to @RadioB_956fm for playing Crowded Houses's recycled song, Don't Dream It's Over.

Obat jenuh itu ternyata sederhana. Cukup lakukan apa yang harus kita lakukan agar perasaan itu segera hilang dan lenyap. Berkubang di kasur sambil mendengarkan radio tentu menjadi pilihan. Memang serba salah rasanya bila memang semua itu belum cukup jadi penawar. Tetapi, saya mencoba berdamai dengan situasi yang demikian. Nikmatilah apa yang ada hari ini, karena esok masih tanya bisu.

Pharmindo, 20 Februari 2012.


#2: Lampu Kamar
Satu alasan yang coba saya hindari setiap pulang ke rumah adalah sesuatu yang absurd. Saya kecewa karena lampu kamar sahabat saya yang tinggal persis di depan rumah itu selalu mati, sejak dia menikah. Sungguh satu alasan yang tidak menuntut pembenaran tetapi malah menghadirkan sejuta penyangkalan. Betapa  seorang sahabat yang seluruh hidupnya (sebelum menikah) adalah bagian dari cerita sejarah bersama tiba-tiba pergi menjadi bagian sejarah di tempat lain.

Agak sedikit cemburu rasanya bila hal kecil seperti itu bisa menjadi masalah besar untuk saya. Padahal, kalaupun dia belum menikah tentu kami pun hanya akan bertemu setiap akhir pekan. Pagi-pagi, sambil mencuci motor. Terlalu banyak absurd dalam hidup ini bahkan dalam hal kecil sekalipun. Ternyata, memang tak mudah untuk melepaskan segala ingatan tentang seseorang yang kurang lebih 25 tahun ini selalu ada dihadapan kita. Bahkan, ketika itu terjadi pada sahabat kita sendiri.

Setiap saya melihat lampu kamarnya mati ada perasaan kehilangan. Mungkin saya yang belum rela melepaskannya dan itu memang tidak adil buat dia. Seakan dia menjelma jadi bagian diri saya sehingga ketika ada orang lain mengambilnya saya tidak rela melepaskannya begitu saja. Padahal, itu sudah takdir Tuhan. Tuhan telah mengumpulkan segala yang berserakan diantara hidupnya, hatinya dan kekasihnya lantas menempatkan mereka dalam suatu ikatan pernikahan. Suatu bekal untuk menjalani proses pendewasaan.

Rasa tenang muncul kala mendengar suara motornya. Walau kadang hanya mampir sebentar lalu pergi. Tapi itu tetap tidak bisa mengganti perasaan cemburu dan kehilangan ini. Saya sadar bahwa ini baru awalnya saja. Sahabat-sahabat yang lain pun akan segera menuju takdirnya masing-masing. Suatu pertanda makna eksistensialitas individu. Seperti saya yang selalu merasa harus kembali ke Jakarta. That’s life. Life happens.
Pharmindo, 20 Februari 2012.

#3: Kenangan

Biarlah aku menyimpang bayangmu, dan biarkanlah semua menjadi kenangan... 
(Reza & Masaki Ueda - Biar Menjadi Kenangan)

Terbuat dari apakah kenangan itu sehingga kita selalu harus kembali teringat padanya? Terbuat dari apakah kenangan itu sehingga menyiksa kita kala rasa itu datang menghujam?

Kembali ke Garut artinya meretas kembali jala memori. Maret 2008, sengaja saya pergi kesana untuk mewawawancarai narasumber yang ucapannya bakal menjiwai seluruh isi skripsi. Skripsi saya waktu itu membahas komik. Kebetulan, narasumber ini juga adalah seorang peneliti komik, namanya Hikmat Darmawan. Search him on Google, and leave your comments here. Huge thanks to Mas Agung Jennong (kurator Selasar Sunaryo Art Space, Bandung), dan Mas Ade (aktivis ruangrupa, Jakarta) yang sudah mau bagi-bagi link untuk menghubungi Bang Hikmat. Hanya dalam waktu 1 jam 30 menit, wawancara di sebuah hotel di Cipanas ini selesai. 2 minggu setelah wawancara itu, saya dinyatakan lulus dan resmi bergelar Sarjana Komik (upss... kata teman-teman). It’s really amazing.

Januari 2010, boleh dibilang adalah bulan dimana seakan dunia menjauh dari kehidupan saya. Semuanya seakan tidak bersahabat dengan nasib saya yang waktu itu sudah 2 bulan jadi pengangguran. Kini, saya sadar bahwa semua yang saya rasakan waktu itu adalah berkah Tuhan untuk menguatkan saya. Meniru istilah pemilik blog Bintang Biru, taqisthi.wordpress.com, saya adalah busur panah yang sedang ditarik untuk kemudian dilepaskan mencapai sasaran dengan kecepatan penuh.

Anyway, ini semua bukan tentang busur panah tetapi pernikahan sahabat pada tanggal 14 Januari 2010 (masih ada hubungannya gak sih?). Saya datang bersama kawan-kawan lain dan yang terpenting, F (sengaja disingkat) ada disitu. Kenapa F jadi begitu spesial itu lain cerita. Sila baca diary bertanggal Desember 2007. Karena memang sudah lama tidak bertemu F,  sepanjang perjalanan Bandung-Garut-Bandung jadi kesempatan saya untuk menyelami dirinya lebih dalam. Saya tahu belum ada yang memilikinya namun saya cukup sadar bahwa saya tidak bisa memberikan harapan apa-apa. I’m now frustatically jobless and pathetically hopeless. Makanya, ada sedikit rasa sesal ketika melambaikan tangan pada F yang akan segera kembali ke Jakarta. Saya tidak punya apa-apa untuk meyakinkan F bahwa saya benar-benar menginginkannya untuk meraih dayung bahagia itu satu kayuh berdua.

Perjalanan kemarin itu sungguh “menyiksa”. Semua kenangan itu tiba-tiba menguak dari kesadaran jiwa yang paling dalam. Mungkin saya sudah berhasil melakukan apa yang pernah saya tulis untuk Cherika: I fail, I mearn, I move on. Tapi saya lupa satu hal. I’m not let it go. So, please from now on: look back, dont stare.*)

*) mengutip SMS sahabat di inbox ponsel

Pharmindo, 20 Februari 2012.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...