Rabu, 06 Juni 2012

THE BEE GEES Extended

Kalau ada yang bertanya, “Kenapa saya membuat postingan tentang Robin Gibb sampai dua kali?”, “Apakah saya sebegitu kehilangan Robin Gibb?”. Terus terang, pertanyaan-pertanyaan itu tidaklah terlalu salah. Belum pernah saya merasa kehilangan seperti ini. Kurang lebih tidak jauh berbeda rasanya ketika Chrisye dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya bersyukur bahwa para musisi ini meninggalkan ‘legacy’ yang akan terus dikenang oleh generasi berikutnya.

Memang benar adanya bahwa saya merasa sangat kehilangan. Sejak wafatnya Maurice Gibb pada tahun 2003, nama Bee Gees kini tidak lagi digunakan para personilnya. Penampilan terakhir Robin Gibb di Jakarta pun menggunakan judul atas namanya sendiri. Saya memang bukan fans berat Bee Gees yang hafal dan tahu sejarah asal muasal The Brothers Gibbs. Saya bukan fans yang rela membayar mahal untuk setiap konser mereka.  Saya juga bukan fans yang mengkoleksi bermacam memorabilia lengkap dengan semua album mereka. Saya hanya menyenangi mereka sejak pertama kali mendengarkan lagu-lagu mereka. Terima kasih untuk Bapak yang bersedia menemani untuk mendengarkan lagu Bee Gees bersama-sama.


Saya benar-benar menikmati Bee Gees. Terutama saat menonton konser mereka dari DVD bajakan yang dibeli di Kota Kembang. Saya masih ingat bagaimana saya dan Bapak termenung takjub waktu menonton konser mereka yang bertajuk “One Night Only” yang digelar tahun 1997 di MGM Grand, Las Vegas. Bee Gees tampil dengan formasi lengkap. Barry, Robin, dan Maurice. Mereka seakan merengkuh kejayaan mereka kembali. Pada konser tersebut, Bee Gees juga menampilkan bintang tamu, Celine Dion, yang ikut menyanyikan lagu “Immortality”.

Dengan berpulangnya Robin, Bee Gees tidak akan pernah lagi sama. Tinggallah kini Barry sendirian, sebagai pewaris tunggal kejayaan mereka. Sulit untuk membayangkan Barry tampil sendirian tanpa iringan timbre vokal yang unik milik Robin dan Maurice. Barry kini menjadi sisa-sisa kejayaan Bee Gees sekaligus saksi hidup atas sejarah pencapaian Bee Gees di ranah musik dunia. Menarik untuk menyimak kejutan apa yang akan ditampilkan oleh Barry Gibb.

Apapun itu, “legacy” yang ditinggalkan pendahulunya tetap membawa nilai-nilai tersendiri. Album rekaman mereka masih akan tetap didengarkan di seluruh dunia. Tentu kita belum lupa bagaimana keadaan serupa yang dialami juga oleh Michael Jackson dan Whitney Houston. Album mereka dirilis ulang dengan nilai penjualan yang lumayan tinggi. Penggemar mereka dan penikmat musik dunia seakan ingin kembali bernostalgia dengan lagu-lagu mereka. Terlepas dari nilai komersialitasnya, fenomena ini mengingatkan kita bahwa suatu karya akan tetap abadi walaupun si pencipta karya itu sudah tidak ada lagi. Ia akan tetap hidup dalam hari para penggemarnya. Mengutip Seno Gumira Ajidarma dalam buku “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”; tidak ada yang abadi, kecuali dokumentasi.

Paninggilan, 6 Juni 2012, 19.32

2 komentar:

Adit Purana mengatakan...

berpacu dalam melodi.. :P

Adang N M I mengatakan...

Kunjungan blogwalking siang kawan..
Sukses selalu
sengaja mengundang juga rekan blogger
Kumpul di Lounge Event Blogger "Tempat Makan Favorit"

Salam Bahagia

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...