Rabu, 06 Juni 2012

For Whom The Bell Tolls (2)

Kematian bukanlah tragedi, kecuali jika kita mengambilnya dari Tuhan (Emha Ainun Nadjib)




Seminggu yang lalu, usai mendengar kabar wafatnya Robin Gibb, mendadak suara Robin dalam reff lagu 'For Whom The Bell Tolls' mengisi ruang kepala saya.
 
When a lonely heart breaks
It's the one that forsakes
It's the dream that we stole
 
And I'm missing you more
And the fire that will roar
There's a hole in my soul

For you it's goodbye
For me it's to cry
For whom the bell tolls

Betapa vokal Robin di lagu itu sangat menyentuh. Entah karena penjiwaan atau memang sang penulis lirik menginginkan Robin menyanyi seperti itu. Tetapi, bila ditelusuri lebih lanjut vokal khas Robin ini memang membawa nuansa beraroma kehilangan. Coba dengarkan lagu “I’ve Gotta Get A Message To You” , “Run To Me”, dan “I Started A Joke”.  Semua lagu tadi bagi saya membawa kesan yang amat dalam. Terlebih dengan karakter vokal dari Robin Gibb. Kesan itu hidup dan tinggal lama dalam memori.

Bee Gees tidak akan pernah lagi sama tanpa Robin Gibb. Kepergiannya meninggalkan suatu kesan tersendiri bagi para penggemarnya. Robin Gibb akan selalu dikenang sebagai pionir musik disko pada dekade 70-an. Saya yakin bahwa ini adalah jalan terbaik yang Tuhan pilihkan untuk Robin. Saya cukup senang ketika mengetahui Robin sempat pulih dari penyakitnya. Bahkan, Robin sempat menyelesaikan proyek terbarunya yaitu "Titanic Requiem". Jika tidak berhalangan, waktu itu Robin dijadwalkan akan menghadiri pemutaran perdana dan launching karyanya itu.

Rupanya takdir berkehendak lain. Tuhan lebih dahulu memanggil Robin. Kita memang tidak pernah bisa meminta takdir, seperti meminta segelas bir (mengutip dari cerpen “Kunang-kunang Dalam Segelas Bir” ditulis oleh Agus Noor dan Djenar Maesa Ayu). Robin, the bell tolls for you now. For you it’s goodbye, for me it’s to cry. Selamat jalan, Robin Gibb.

 

Medan Merdeka Barat, 6 Juni 2012, 11.47.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...