Selasa, 13 November 2012

Hari Pahlawan

Apa yang tersisa pada satu hari dimana kebanyakan orang menamakannya dengan sebutan "Hari Pahlawan"? Masih ingatkah mereka pada seruan Bung Tomo, "Lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka. Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI"?

Personally, Hari Pahlawan bagi saya adalah saat dimana setidaknya sekali dalam setahun kita dibuat untuk mengenang jasa para pahlawan. Kurang lebih begitu sejauh pemahaman saya dari pelajaran Sejarah waktu sekolah dulu. 

Sedari dulu, tidak pernah ada ungkapan protes atau sekedar pertanyaan iseng, kenapa Hari Pahlawan harus jatuh setiap tanggal 10 November? Kenapa tidak dirayakan setiap tanggal 24 Maret, hari Bandung dibumihanguskan? Kenapa pula harus Surabaya yang menjadi saksi bagi segenap darah yang tumpah demi Ibu Pertiwi?

Barangkali, semua itu tidak perlu jadi pertanyaan. Biarlah tetap begitu. Suatu saat, mungkin kau akan merasakan hal yang sama saat cucumu menanyakannya. Kelak, kau pun sadar bahwa sejarah adalah kisah yang berulang.




Saya merayakan Hari Pahlawan tahun ini dengan sedikit selebrasi sederhana. Mendengarkan lagu keroncong bertema "Perjuangan" bukanlah hal yang membosankan. Terlebih, suasana perjuangan yang dikisahkan dari 14 lagu dalam album keroncong ini bervariasi. Tidak melulu soal perjuangan atas nama kemerdekaan. 




Ada nuansa cinta, antara kekasih yang pergi berjuang, hingga rasa cinta air yang mendalam. Semua terangkai jadi satu jalinan nada gemilang. Penuh peluh rindu, menyentuh harmoni rasa, Indonesia merdeka.


Sapu Tangan dari Bandung Selatan

Sapu tangan sutra putih,
dihiasi bunga warna

Sumbang kasih jaya sakti,
di selatan Bandung raya

Diiringi kata nan merdu mesra,
Terimn kasih dik janganlah lupa

Air mataku berlinang,
saputangannya kusimpan

Ujung jarinya kucium
serta doa kuucapkan

Selamat Jalan selamat berjuang

Bandung selatan
Jangan di lupakan


Bogor, 9 November 2012.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...