Senin, 12 Agustus 2013

Blackjack: Life is Not a Gamble

“Kamu tertipu karena dibutakan cinta. Dari segala kebodohan, kebodohan cinta adalah kebodohan yang paling bodoh.”

Kalau kau masih penasaran bagaimana cinta membutakan segala yang ada pada dirimu, sila baca sendiri kisah Ashlyn yang cinta setengah mati sama Jaeed, kekasihnya. Perlakuan spesial Jaeed pada Ashlyn sejak pertemuan pertama mereka meninggalkan kesan yang dalam. Ashlyn pun menerima Jaeed untuk menjadi kekasihnya. Jauh di suatu negeri dimana Ashlyn pernah dijanjikan Mamanya untuk bertemu seorang pangeran.



Tidak ada yang tahu pasti siapa itu Jaeed. Andrew jelas sudah memberi sinyal lampu kuning pada Ashlyn. Begitu pun sahabatnya, Laura. Ashlyn sendiri jelas membela dirinya dengan memberi pembenaran bahwa semua pikiran mereka tentang Jaeed adalah salah. Ashlyn mulai terlibat lebih dalam dengan perasaannya sementara kedok Jaeed belum jelas benar.

Sekali, Ashlyn pernah mengikuti Jaeed ke Kasino. Itu pun terpaksa karena ingin membuktikan bahwa Jaeed membohonginya. Semakin lama, Ashlyn semakin jatuh cinta. Sedang, Jaeed mulai menampakkan dirinya. Berkali-kali Jaeed memaksa Ashlyn untuk meminjaminya uang. Dengan alasan yang nampak masuk akal bagi Ashlyn. Tidak ada yang mampu menghalangi orang yang sedang jatuh cinta. Bahkan petuah bijak sahabat sekalipun. Apapun akan dilakukan walau harus mengorbankan uang jatah kuliah.

Hal itu terus berlanjut hingga akhirnya Jaeed menghilang dan meninggalkan hutang yang tak terbayar. Tidak hanya pada Ashlyn, Jaeed berhutang pada hampir semua mahasiswa Indonesia yang dikenalnya. Ashlyn mulai menyadari kesalahannya. Apalagi, setelah sahabat terbaiknya, Laura dan Adel pulang ke Indonesia usai meraih gelar sarjana. Berkat pertolongan Tante Erly, Ashlyn tidak lagi menggelandang.

Hidup nampaknya akan lebih mudah setelah pertolongan itu tiba. Namun, sekali lagi Ashlyn tidak mampu membedakan cinta. Usai dijebak oleh Tante Erly, Jaeed yang memang terpojok mengakui bahwa ia hanya memanfaatkan Ashlyn belaka. Sayangnya, Ashlyn kembali terbujuk ketika Jaeed menghubunginya kembali. Jaeed berhasil memanfaatkan butanya perasaan Ashlyn untuk mengadu keberuntungan. Ia memakai uang jatah kuliah Ashlyn untuk berjudi. Tragis. Jaeed kalah. Jaeed pergi meninggalkan Ashlyn yang harus kembali menggelandang.

..bahwa seburuk apa pun situasimu, ketika sahabatmu mendampingimu, kamu akan tahu bahwa semuanya bisa menjadi lebih baik.

Kepahitan hidup di jalanan membuat Ashlyn harus memutar otak untuk bertahan hidup. Segala kemungkinan diusahakannya. Termasuk, menghubungi sahabatnya, Adel. Keajaiban itu ada bahwa Adel akhirnya membantu Ashlyn menemukan jalan keluar.

Walau bayangan tentang Jaeed masih enggan pergi Ashlyn berhasil meraih impian yang jadi landasan mimpinya untuk pergi sejauh itu. Ashlyn semakin menyadari kesalahannya ketika Mama mengetahui semuanya. Ibarat pepatah, kasih Ibu sepanjang masa. Mama tidak kecewa pada Ashlyn, bahkan mereka saling menyalahkan diri sendiri.

Ashlyn kembali ke Indonesia beberapa bulan sebelum upacara wisuda. Ashlyn mewujudkan hidup barunya di Jakarta dengan bekerja pada sebuah perusahaan multinasional. Entah bagaimana, takdir mempertemukannya lagi dengan Jaeed. Jaeed diterima bekerja di perusahaan yang sama dengan Ashlyn. Dengan meja kerja yang berjarak 10 meter itu.

Seperti biasa, seakan tidak terjadi apa-apa. Jaeed mulai berusaha mendekati Ashlyn kembali. Bayangan itu kembali menyergap. Kali ini, Ashlyn sudah merasa cukup. Hingga ia hanya bisa tersenyum saja ketika melihat teman-temannya menjadi korban Jaeed.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Personally, saya mengenal Northumbria University dan London Metropolitan University dari beberapa sesi pertanyaan dengan representatives mereka setiap UK Education Fair digelar. Begitu pun dengan Newcastle yang sudah lebih dulu akrab karena sebuah klub sepakbola bertajuk Newcastle United. Sayang, karena beberapa hal saya urung mendaftar kesana. Kisah petualangan Ashlyn di Inggris bagi saya sudah cukup memberikan gambaran tentang kehidupan perkuliahan disana.

Membaca fiksi yang diangkat dari kisah non-fiksi membawa suatu nuansa realitas yang begitu kental dalam setiap detail cerita. Yang membuat saya tidak ingin beranjak dari pembacaan Blackjack adalah ketegangan-ketegangan yang turun naik sejalan dengan alur cerita. Walau terkesan dimulai dengan alur flashback namun ketegangan yang naik kadang turun dengan sendirinya membuat semakin penasaran menuju akhir cerita. Barangkali, Blackjack sendiri merupakan biografi fiksi yang sangat personal sehingga berbagai konflik didalamnya terasa lekat dengan keseharian kita.

Lebih jauh, walaupun Blackjack masih mengandalkan tema cinta, namun ia kembali membuat kita percaya bahwa hubungan persahabatan tidak pernah akan pudar. Sahabat bukanlah seseorang yang selalu ada menemanimu, tetapi mereka ada untukmu. Mereka akan datang pertama kali padamu saat seluruh dunia meninggalkanmu.

Geregetan? Ya. Kesal? Pasti. Yang jelas, detail dalam buku ini nampak nyata dan hidup. Blackjack tidak hanya menawarkan pengalaman Ashlyn dalam mencinta tapi juga pengalaman memaknai perjalanan hidup.

Lalu, kau masih percaya kalau cinta itu buta?


Judul         : Blackjack
Penulis      : Clara Ng & Felice Cahyadi
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Tahun        : 2013
Tebal        : 316 hal.
Genre        : Novel Dewasa-Metropop

Catatan:
Resensi ini terpilih sebagai #ResensiPilihan @gramedia periode 20 Agustus 2013







Paninggilan, 12 Agustus 2013.

2 komentar:

Aprie Janti mengatakan...

Lagi Hot-hotnya novel ini di linikala mba Clara Ng. Review yang bagus, mas :)

Anggi Hafiz Al Hakam mengatakan...

makasih udah mampir :) keep reading, keep writing

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...