Senin, 21 Mei 2012

Catatan Seorang Aktor Sejarah


Lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka. Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI. - Pidato Bung Tomo



10 November. Siapa yang tidak ingat pada hari bersejarah ini. Hari yang kini dirayakan untuk mengenang dan menghormati para pahlawan yang gugur dalam usaha mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. Hari dimana seluruh kekuatan rakyat Surabaya turun untuk membela tumpah darah Bumi Pertiwi ini dari ancaman tentara asing yang merongrong kedaulatan bangsa.

Pertempuran yang terjadi pada hari itu adalah sebuah pertempuran besar pertama yang meletus setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sebagaimana selalu dicatat oleh buku sejarah manapun, peristiwa ini kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Pertempuran ini merupakan salah satu penentu tetap berdirinya republik Indonesia hingga saat ini.

Membaca lebih dalam, buku ini menghadirkan kisah-kisah yang tidak pernah ada dalam buku sejarah manapun. Bung Tomo, yang bertugas sebagai wartawan di kantor berita Antara berhasil mendokumentasikan peristiwa dan momen-momen menjelang pertempuran bersejarah itu. Buku ini diadaptasi dari buku aslinya "10 November" yang kemudian di remake dengan judul yang berbeda namun tanpa kehilangan esensi. Sentuhan personal dari Bung Tomo menjadikan karakter cerita memiliki kekuatan sendiri.

Dapat dipahami, bahwa setiap usaha dalam mempertahankan kemerdekaan jauh lebih sukar dibanding mendapatkan kemerdekaan. Hubungan komunikasi antara para pemimpin di pusat dan kalanganrakyat di daerah seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Bahkan, ada beberapa daerah yang belum tahu bahwa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya. Banyak kisah tak tercatat yang dihadirkan kembali oleh Bung Tomo.

Perjuangan dalam upaya mempertahankan kemerdekaan terus berlanjut. Bung Tomo berhasil membangun kekuatan melalui siaran Radio Pemberontakan. Mobilisasi dan pengaturan strategi dapat berjalan lebih sistematis melalui komando radio siaran. Tidak dapat dipungkiri bahwa siaran radio saat itu sanggup membangkitkan semangat rakyat untuk bersama-sama mempertahankan kedaulatan republik.

Seperti layaknya peristiwa Rengasdengklok yang terjadi beberapa hari menjelang proklamasi, terjadi pula perbedaan pandangan dan pendapat antara golongan  tua dan kaum muda. Semua ingin berusaha agar kemerdekaan ini tetap langgeng bebas ancaman dari kepentingan Allied Forces (sekutu) yang bertugas melucuti tawanan pihak Jepang ternyata membonceng tentara NICA untuk kembali berkuasa di Indonesia.

Presiden Soekarno sebagai pemimpin revolusi pun hanya mampu bersandar pada perundingan perdamaian. Pemerintah pusat seakan tidak mau melihat kenyataan yang bergejolak di daerah-daerah. Bahwa rakyat telah siap untuk mempertahankan kemerdekaan dari pasukan Sekutu yang akan segera mendarat di Surabaya.

Tewasnya Brigjen Mallaby sewaktu bertugas untuk menjamin keamanan kota Surabaya berperan besar sebagai penyebab serbuan terhadap Surabaya. Terlebih lagi, Jenderal Christison, Komandan Angkatan Perang Inggris di Indonesia saat itu mengeluarkan semacam maklumat berisi ultimatum yang harus dipatuhi seluruh kaum republik di Surabaya. Mereka dipaksa menyerah atau Inggris akan menyerang dengan segenap kekuatan darat, laut, dan udara.

Pertempuran pun tak dapat dielakkan setelah Inggris melakukan kontak senjata untuk pertama kalinya saat itu. Segenap kekuatan rakyat ikut berjuang demi kemerdekaan yang telah lama dinanti dan selalu diperjuangkan. Pidato Bung Tomo menjelang dimulainya pertempuran semakin melecut semangat banteng-banteng Indonesia untuk tetap mengibarkan merah putih di Surabaya. Merdeka atau mati. Tidak ada pilihan lain.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


Membaca kembali kisah sejarah perjuangan bangsa adalah hal yang mengharukan. Bagaimana tidak, pahlawan-pahlawan tanpa nama telah rela mengobankan nyawanya di medan pertempuran demi tercapainya Indonesia Merdeka. Kemerdekaan yang diperkosa oleh kelakuan para koruptor, para pengkhianat perjuangan bangsa.

Pertempuran 10 November 1945 adalah pertempuran pertama yang mendapat "legitimasi" dari pemerintah pusat. Tidak seperti usaha melawan Agresi Militer Belanda I & II. Pertempuran yang diawali oleh sebuah ultimatum yang menginjak-injak harga diri bangsa Indonesia. Ultimatum yang sekaligus juga menjadi tantangan terhadap kedaulatan bangsa Indonesia.

Personally, isi ultimatum tersebut memang menginjak harga diri Bangsa Indonesia yang baru saja merdeka. Darah saya ikut mendidih ketika membaca teks asli ultimatium itu. Rakyat dipaksa menyerah tanpa syarat pada pasuka Sekutu pimpinan Inggris sebagai jaminan keamanan proses pelucutan tawanan tentara Jepang. Darah Jawa Timur yang mengalir dalam tubuh saya ikut meletup-letup karenanya. Niscaya, pembaca pun pasti ikut marah bila membaca naskah itu.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Republik Indonesia menerima tantangan kekuasaan asing yang hendak melanggar kedaulatannya dan berhasil melawan. Rakyat Surabaya berhasil membuktikan bahwa slogan Merdeka atau Mati itu bukan sekedar pepesan kosong belaka. Hal ini sama persis dengan aksi nekat "Bonek" yang memang benar-benar rela mati demi Persebaya yang sangat mereka cintai.

Melalui buku ini, saya tidak hanya belajar memahami peristiwa-peristiwa di balik sejarah perjuangan bangsa. Banyak kisah tentang kepemimpinan hadir di buku ini. Membawa pencerahan untuk lebih bisa bersikap terhadap suatu keadaan.

Saya melihat bagaimana plin-plannya pemerintah pusat dalam mengatasi agresi sekutu. Pun, saya kagum karena Gubernur saat itu, Gubernur Suryo mampu memberikan teladan bagi rakyat yang dipimpinnya. Itu sebabnya, nama beliau kemudian diabadikan menjadi nama jalan di Surabaya. Tidak belebihan, hal itu menandakan peran beliau yang amat vital dalam usaha mempertahankan kedaulatan bangsa.

Lebih dari itu, Peristiwa 10 November 1945 hanyalah contoh kecil dari ketabahan rakyat Indonesia untuk berusaha hidup merdeka. Perjuangan dengan darah dan air mata yang tak kunjung usai. Dengan lantunan harap dan doa yang menembus pintu langit. Masih ada pertempuran-pertempuran lain, di daerah lainnya, yang tidak kalah hebatnya meski tanpa mesti diperingati.

Seharusnya, kita merasa beruntung memiliki Bung Tomo, yang dengan sukarela menuliskan memoarnya. Bung Tomo, aktor sekaligus tokoh utama dibalik peristiwa 10 November melukiskan kembali semua itu dengan jujur, lugas, detail, dan tanpa tendensi kepentingan apa-apa. Hanya sekedar mengingatkan kita pada aksi heroik yang tidak hanya pantas dikenang atau direnungi semata. Alangkah lebih baik bila semangat juang yang besar dari mereka yang gugur dalam pertempuran itu kita tiru dalam mengisi kemerdekaan.

Sejarah selalu hadir ditengah-tengah kita untuk kebutuhan saling mengingatkan. Sejarah, sudahkah kita belajar darinya? Sejarah, seberapa jauh kita belajar tentangnya?

Judul: Pertempuran 10 November 1945: Kesaksian & Pengalaman Seorang Aktor Sejarah
Penulis: Bung Tomo (Sutomo)
Penerbit: Visimedia
Tahun: 2008
Tebal: 163 hal.
Genre: Memoar-Sejarah


Pharmindo, 30 April 2012. 16:08

1 komentar:

fajar faturohman mengatakan...

postingnya bagus sob
jangan lupa juga berkunjung ke situs kami
di http://stisitelkom.ac.id

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...