Senin, 27 Agustus 2012

Tiga Surat Cinta untuk Aninda (1)

Aninda tercinta,

Sayangku, aku kirimkan surat ini dari sebuah bandara paling wahid di dunia. Aku tiba di Incheon International Airport setelah melalui dua belas jam perjalanan yang melelahkan. More than an Airport, beyond expectation. Tulisan itu seperti sengaja menyambut kedatanganku disini. Konon, bandara ini adalah bandara terbaik di dunia. Arsitektur modern yang diterapkan di bandara ini mewakili fungsionalitasnya sebagai ranah publik. Aku belum sempat menulusurinya karena aku sudah terlalu lelah. Transit di Kuala Lumpur yang memakan waktu hampir empat jam membuatku jenuh. Ditambah lagi makanan dan minuman kaleng yang dijual disana tidak membuat perutku puas. Engkau pun tahu, dalam hitunganku hanya ada dua makanan di dunia. Enak dan Enak Sekali. Tetapi, yang tadi itu diluar hitungan. Aku harus menambahkan kategori baru, Tidak Enak.

Sesampainya aku di Incheon ini, aku mencari tempat penyewaan ponsel. Aku mula-mula menyewa ponsel dengan harga yang lumayan mencekik. Bayangkan, aku harus membayar sewa sekitar 3000 won atau dua puluh lima ribu rupiah. Dengan uang sejumlah itu engkau pun tahu kita sudah bisa makan enak di warung Bu Nikmah. Belum lagi, biaya telepon 10 won per detik dan SMS 100 won per sekali kirim. SMS pun tidak bisa international coverage. Memang mahal, tapi aku lakukan juga demi menemukan dua orang sahabatku disini, Kim Min Suk dan Lee Yo Won. Sudah jelas aku tidak bisa menghubungi mereka lewat telepon umum disini. Engkau pun tentu tahu aku tidak seperti Olivia yang rajin belajar bahasa Korea hingga paham aksara Han Geul.

Aninda sayangku, tak lama kemudian Kim dan Lee membawaku ke Seoul. Aku dan empat orang kawan lainnya benar-benar kelelahan. Suasana mobil pun terasa sepi dan hening selama satu setengah jam perjalanan. Aku tidak sempat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dari Incheon ke Seoul. Aku berharap Kim dan Lee mengerti keadaan kami yang sangat kelelahan ini. Aku terbangun ketika Lee membangunkanku tepat di depan hotel yang namanya sulit sekali untuk dibaca. Seoul KyoYuk MunHwa HoekWan Hotel. Barangkali nanti, engkau bisa tanyakan pada Olivia bagaimana membaca nama hotel itu dengan benar.

Hotel bintang tiga ini tidak terlalu mengecewakan untuk kami. Kira-kira 11 km jauhnya dari pusat kota Seoul. Hotel ini juga tidak jauh dari Seoul National University, tempat Kim dan Lee kuliah Sastra Timur. Besok, Kim dan Lee akan mengajak kami untuk jalan-jalan sebelum kami memulai seminar esok lusa.

Aninda, seperti engkau tahu, perjalanan ini berisi empat orang saja. Perlu aku jelaskan lagi, bahwa kami delegasi Indonesia ini punya misi dalam pertemuan ICAO Legal Seminar ini. Aku sengaja memilih orang-orang terbaik yang memang mengerti masalah legislasi internasional dan teknis operasional penerbangan. Dan yang penting, mereka bertiga bisa diajak kerjasama. Kami punya tujuan mensukseskan program Indonesia untuk kembali masuk dalam ICAO Council. Engkau tahu itu, Aninda. Sungguh tanggung jawab yang amat besar.

Malam ini adalah malam pertama kami di hotel. Apa lagi yang bisa diceritakan dari sebuah hotel, Aninda. Bukankah lebih baik kita bicara tentang mimpi-mimpi malam, tentang impian masa depan, atau malah tentang hidup kita di masa tua nanti. Oh ya, aku tadi lihat pengumuman event Digital Cherry Blossoms untuk menyemarakkan perayaan Festival Cherry Blossom. Sebuah panel berukuran 22 meter nanti akan ditempatkan sepanjang jalur yang menghubungkan area sentral bandara dengan terminal penumpang. Aku membayangkan engkau ada disini bersamaku untuk menikmati musim semi yang selalu menyenangkan.

Aninda, aku ingin mengucapkan terima kasih. Buku tulisan Claudia Kaunang itu sungguh berguna. Sulit membayangkan bagaimana berkeliling Korea dalam sembilan hari hanya dengan bekal uang tiga juta rupiah. Besok, aku akan meminta Kim dan Lee mengantarku ke area perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan. Kata Kim, aku harus menandatangani perjanjian untuk tidak menuntut salah satu pihak bila nanti terjadi kontak senjata disana. Kedengarannya mengerikan memang, tetapi bukankah sensasi semacam itu yang kita cari dalam hidup yang semakin menjenuhkan ini.

Lalu, aku juga akan meminta mereka membawaku ke N Seoul Tower dimana terdapat Pohon Gembok Cinta. Aku akan mengabadikan cinta kita disana, Aninda. Aku akan menulis nama kita di gembok itu dan menguncinya. Konon, ketika gembok itu terkunci, maka pasangan yang namanya ada di gembok tadi tidak akan terpisah untuk selamanya. Kedengarannya romantis bukan, Aninda? Kelak, jika besok aku sampai kesana, akan kugembok tulisan untuk cinta kita:

“Aninda & Anggi, Insya Allah akan bersama kesini, nanti.”



From the corner of Seoul,
Peluk hangat dan cium,

Faithfully yours,


Paninggilan, 14 Mei 2012

1 komentar:

Akhmad Bayquni mengatakan...

bagus banget suratnya.. salam kenal, mas.. :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...